JAKARTA, KOMPAS.com - Keluarga R (35), korban perampokan dan pemerkosaan, mengaku trauma dengan perampokan dan pemerkosaan yang dialami R di angkutan umum. Sebagian keluarga memilih menghindari kendaraan umum pascakejadian yang dialami R.
Joy (50), paman R, mengatakan, kejadian yang dialami R membuatnya berpikir ulang membiarkan anggota keluarga menumpang angkutan umum untuk sementara waktu. ”Istri saya yang juga pedagang sementara tidak naik angkot karena kami masih trauma. Tadi pagi saya antarkan istri saya belanja,” ujar Joy.
Dinas Perhubungan harus memperbaiki kualitas angkot agar memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi penumpang. Dia juga berharap tidak ada lagi sopir tembak.
”Sebelum kejadian ini, keluarga kami tak pernah mengalami tindak kriminal di angkutan umum. Tetapi, kalau sudah kejadian seperti ini, semua angkot juga terkena dampaknya karena penumpang takut,” ucap Joy.
Sementara kondisi R berangsur membaik. Dia sudah sadar dan bisa berkomunikasi. Namun, pihak keluarga belum bisa memastikan apakah R bisa pulang hari Senin (19/12/2011) ini.
Secara terpisah, sejumlah sopir M-26 jurusan Kampung Melayu-Bekasi mengeluhkan sepinya penumpang pascaperistiwa itu.
Ramli, sopir M-26, mengatakan, calon penumpang, terutama perempuan, enggan naik angkot bila angkot kosong penumpang atau tidak ada penumpang perempuan lain di dalam. ”Mungkin penumpang waswas karena kasus (di Depok) kemarin,” kata Ramli.
Sejumlah sopir M-26 juga kecewa dan tersinggung atas ulah kawanan penjahat. Ulah itu dinilai tidak hanya merugikan R dan keluarganya, tetapi juga merugikan seluruh awak M-26.
Noda darah
Polisi mendapati mobil mikrolet yang digunakan untuk melakukan kekerasan kepada R pada 14 Desember lalu. Dalam mobil yang diparkir di halaman Polsektro Cimanggis itu terdapat bekas darah kering di bawah kursi penumpang yang terletak di dekat pintu. Sebagian kaca mikrolet ini juga dilapisi kaca film, antara lain di depan dan sisi kanan-kiri. Namun, kaca belakang mikrolet tidak dilapisi kaca film.
Kepala Subdirektorat Kriminal Umum Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Helmy Santika mengatakan, polisi masih mengidentifikasi mikrolet tersebut. Polisi juga akan melakukan uji forensik untuk mendapatkan petunjuk atas kasus perampokan dan perkosaan itu.
Mereka masih mengejar tersangka yang identitasnya sudah diperoleh polisi. Sketsa wajah tersangka juga sudah dipublikasikan. ”Upaya (pencarian tersangka) juga dibantu pengurus angkot,” katanya.
Bisnis pelayanan
Psikiater dari Women’s Mental Health Universitas Airlangga, Nalini Muhdi, mengatakan, dibutuhkan empat langkah untuk mengatasi pemerkosaan di angkutan umum, yakni preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Langkah preventif hanya bisa dilakukan negara dan sistem pemerintah yang benar dalam penyelenggaraan angkutan umum.
Langkah promotif penting dikerjakan negara untuk menyosialisasikan ke masyarakat bahwa perkosaan bukan terjadi akibat salah korban. Perkosaan menjadi penyaluran hasrat berkuasa bagi pelaku yang memiliki rasa inferior dalam dirinya. Karena itu, selain perlu memperbaiki sistem penanganan bagi korban perkosaan, para pelaku juga mesti mendapatkan terapi.
Sementara langkah kuratif berupa penyembuhan, dan rehabilitatif menjadi tugas tim medis termasuk psikiater.
Pengamat transportasi Rudy Thehamihardja mengatakan, bisnis transportasi umum merupakan bisnis yang berbasis pelayanan. Kejadian yang menimpa R dan beberapa kejadian serupa sepanjang 2011 memperburuk citra transportasi umum.
”Yang harus diperbaiki terutama sikap dan kinerja sopir angkutan umum. Selama sopir yang menggantungkan hidup dari bisnis transportasi ini kehidupannya belum membaik, mustahil mereka memberikan pelayanan yang baik,” ujar Rudy.
Saat ini pendapatan sopir masih minim. Itu pun masih ada sejumlah beban yang harus dibayar seperti aneka pungutan liar. Dengan kondisi seperti saat ini, menurut Rudy, sopir angkutan umum potensial dibujuk untuk melakukan kejahatan.
”Saya berharap pemangku kebijakan bisa menyelami betul kehidupan sopir sebelum mereka mengambil kebijakan tertentu. Jangan sampai kebijakan yang muncul hanya menyentuh kulitnya,” papar Rudy.
Kebutuhan untuk meningkatkan pelayanan angkutan umum ini mendesak dilakukan terlebih bila pemerintah memang serius ingin mengurangi kemacetan di jalan. (LKS/COK/ART)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang